TORAJA UTARA – Aktivitas Adu Ketangkasan Unggas (AKU) yang lazim dikenal (SBY) yang belakangan ramai diperbincangkan di Toraja dinilai menyimpan sisi positif dan negatif yang perlu dicermati secara lebih jernih.
Di tengah keluhan pedagang UMKM soal sepinya perputaran ekonomi akhir tahun, minimnya aktivitas hiburan rakyat hal ini menyentuh aspek hiburan, ekonomi dan juga menyangkut tata kelola ekonomi, kesenjangan sosial dan sulitnya peluang bisnis untuk mendapatkan cuan.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai bahwa menurunnya daya beli disebabkan salah satu faktor yakni kurangnya tempat hiburan rakyat. Hal ini tidak terlepas dengan kehadiran aktivitas SBY.
Faktor ekonomi makro, perubahan pola konsumsi masyarakat, kurangnya sarana hiburan dan sinergi manajemen komunikasi atau public speaking.
“Indikator panas dinginnya roda perekonomian adalah kurangnya potensi tempat hiburan. Adapun kegiatan seperti adu ketangkasan unggas yang berpotensi mengerakkan ekonomi lokal. Namun kerapkali pro kontra dikalangan aktivis. Mau terobosan apa lagi. Dikerjakan ini itu kadang salah. Bagaimana Kampung kita mau maju jika tidak saling memotivasi, ” ujar Yahya saat dihubungi wartawan, Minggu (28/12/2025).
Meski kerap disebut sebagai “adu ketangkasan unggas alias SBY”, praktik di lapangan seringkali sulit dipisahkan dari unsur finansial. Lantaran itu salah satu penyemangat bagi para penonton untuk menyalurkan unek-uneknya.
“Tidak ada kegiatan tak membutuhkan finansial. Bagaimana ada perputaran ekonomi jika tak ada tempat hiburan. Yang namanya kita manusia membutuhkan relaksasi, namun kita bukan mendukung namanya hal negatif. Tapi dibalik itu semua se'otomatis pastinya ada sisi positifnya dong, " ungkap Yahya.
Selain itu, sejumlah pemerhati sosial berpendapat dan membayangkan jika semisalnya ada lokalisasi semuanya bisa tertata rapi, itu bisa menjadi salah satu sumber PAD daerah. Lagian sulit untuk membendung yang namanya hobi atau semacamnya. Hal itu tidak membuat orang terpegaruh secara signifikan dari normalisasi aktivitas tersebut.
Menurut mereka, jika AKU atau SBY dikelola dengan baik dengan persetujuan oleh para toko lintas agama dan pemerintah, endingnya ada sisi baiknya, Semisalnya bisa membuka ruang lokalisasi terkait hal itu dan membuatkan aturan khusus se-otomatis tak ada lagi yang abu abu atau kegiatan liar.
“UMKM memang perlu didorong, dengan berbagai cara yang tidak 100 persen merusak moral generasi muda. Pemerintah daerah seharusnya hadir dengan alternatif hiburan rakyat yang legal, festival budaya, pasar malam, event seni, atau kalender wisata, ” kata seorang aktivis perempuan Mirna di Makassar.
Pelaku UMKM sendiri mengakui bahwa keramaian sangat berpengaruh terhadap omzet, namun sebagian berharap ada solusi yang lebih tertata.
Mereka mendorong pemerintah daerah dan pihak swasta untuk menciptakan ruang ekonomi baru yang tidak menimbulkan polemik. Namun bisa terkontrol dan terkelola dengan baik.
“Kami hanya ingin dagangan laku dan bisa hidup tenang. Kalau ada kegiatan resmi, legal, dan rutin, tentu itu lebih baik, ” ungkap iwan salah seorang pedagang kaki lima di Rantebua.
Dengan berbagai pandangan yang muncul, polemik AKU di Toraja Utara menunjukkan bahwa persoalan ekonomi, budaya, dan hukum saling bertautan
Tantangannya kini adalah bagaimana menciptakan penggerak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, tanpa menimbulkan pro kontra dan kepastian hukum.

Updates.